Tubagus Arief Z-Surosowan art doc

Home » Pemandangan istana Surosowan dulu (kesultanan Banten Darussalam) dengan Masjid ageng dan tiamah di Banten lama. By Tb Arief Z-art.

Pemandangan istana Surosowan dulu (kesultanan Banten Darussalam) dengan Masjid ageng dan tiamah di Banten lama. By Tb Arief Z-art.

Tb Arief Z-art

Istana Surosowan dulu (kesultanan Banten Darussalam) di Banten lama. By Tb Arief Z-art. Cat akrilik di atas kanvas staples alas triplek. Ukuran 30 X 40 cm

Surosowan Tb Arief Z-art

Istana Surosowan dulu (kesultanan Banten Darussalam) di Banten lama. By Tb Arief Z-art. Efek hardlight adobe psd CS 6

Masih misteri bagaimana bentuk asli istana Surosowan dulu.

Tapi, melihat dari luasnya tanah di areanya, dapat di perkirakan betapa besar dan luasnya istana Surosowan, bahkan terdapat ruang bawah tanahnya, di mana di perkirakan terdapat bak-bak kolam pemandian. Mungkin  pula berhubungan dengan hubungan jalur-jalur saluran air, dengan kanal-kanal yang pernah di bangun di masa Sultan ageng  Tirtayasa.

Istana Surosowan dulu pernah di bangun menjadi luas dan besar di masa Sultan ageng Tirtayasa.

Beliau pula yang membakarnya, karena tidak rela istana jatuh pada putera keduanya yang durhaka dan berkhianat padanya, Pangeran Haji Abdul Kohar.

Sebelumnya Tirtayasa dengan putera sulungnya sempat berselisih dengan Pangeran Haji Abdul Kohar yang mendapatkan bantuan  Belanda, dan menuntut takhta Sultan ageng Banten Darussalam.  Tapi, alasan pertentangan sebenarnya lantaran Tirtayasa menyebut puteranya gila, karena juga ingin menikahi 100 isteri. Bahkan di antaranya pula perempuan Belanda, dan Eropa. Makanya Pangeran Haji ini lebih memilih tetap berteman dengan Belanda, karena pula telah di suap sangat tinggi oleh Belanda, dengan harta dan perempuan gadis-gadis Eropa. Bahkan oleh Tirtayasa di nilai keterlaluan, karena hingga di tawari 100 perempuan, dan mau pula si Pangeran Haji Abdul Kohar.

Mungkin pula hal itu kasus suap tertinggi Belanda,  pada Pangeran Banten.

Sedangkan Tirtayasa maunya idealis memerdekakan kesultanan Banten Darussalam dengan mengenyahkan keberadaan pendudukan Belanda di Batavia.

Di mana memang Pangeran Haji jadi gila, karena walau setelah perang Batavia usai, ia juga telah menyaksikan bagaimana kekejamannya tentara Belanda memperlakukan pasukan Mataram dan Banten yang di kalahkan atau di tangkap.

Apalagi setelahnya, walau pasukan Mataram dan Banten sempat menguasai benteng Belanda di Sunda Kelapa, berdatangan lagi tambahan armada 300-lebih kapal Belanda. Padahal pasukan Mataram dan Banten juga sudah habis-habisan melawan pasukan Belanda di benteng Sunda Kelapa.

Dan Sultan agung Mataram, Hanyokrokusumo pun telah membunuh 2 senopati-senopatinya, sebagai tanda menyerah pada Belanda.

Jadinya tinggal Sultan ageng Tirtayasa dan putera sulungnya, masih di anggap penentang Belanda. Dan menjadi sasaran baru misi armada tambahan Belanda.

Tirtayasa juga di tuding sama gilanya oleh Pangeran Haji, lantaran tetap bertekad melawan kedatangan tambahan armada Belanda yang lebih banyak. Padahal di perang Batavia saja sudah habis-habisan.

Di samping sebenarnya Sultan ageng Tirtayasa hendak mewariskan takhtanya pada putera sulungnya.

Karena ayahnya nekad pula hendak terus melawan Belanda, Pangeran Abdul Kohar jadi menerima tawaran Belanda dengan mendapatkan bayaran tinggi, bahkan di jadikan seperti Komandan marsose pertama Belanda di Asia Tenggara.

Ia hingga menikahi 100 perempuan, bahkan di antaranya perempuan-perempuan Belanda dan Eropa, juga dengan dalih pemeliharaan keturunan kesultanan Banten.

Lantaran di perang Batavia kemarin, telah melihat pasukan Mataram dan Banten telah berperang habis-habisan, banyak prajurit Mataram dan Banten gugur. Apalagi kesultanan Banten tinggal sendirian menghadapi Belanda, di samping Sultan agung Mataram juga telah berkhianat dari kesatuan misi gerilya kemerdekaan, dan menyerah.

Di masa Sultan Haji Abdul Kohar naik takhta melalui VOC Belanda, pemerintahannya tidak lama, lantaran ia menjadi sinting, kemudian mangkat.

Setelah mangkatnya, takhta jatuh ke di antara keturunannya, tapi kemudian juga sempat terjadi pralaya di kesultanan Banten Darussalam. Pralaya yang terjadi juga antara keturunannya Sultan Haji, dengan putera sulungnya Tirtayasa si pewaris takhta sah sebenarnya.

Misal terdapat di masa, hingga takhta Sultan Banten di ambil oleh Sultan Zainul Arifin. Kemudian di masa Sultan Zainul Arifin pula, hingga di datangi Belanda untuk di sodori agen perempuannya dari Arab, Fatimah untuk di jadikan isteri tambahannya.

Tapi, kemudian Zainul Arifin menentang ketika isterinya Fatimah mulai menuntut takhta Sultan Banten di berikan pada kemenakannya dari Arab.

Makanya banyak hingga kini mengaku turunan kesultanan Banten, bahkan di antaranya ada pula yang sesama peranakan Belanda, tapi pula apa yang termasuk dari Sultan Haji, atau putera sulungnya Tirtayasa. Tapi bedanya ada pula yang kerabat Belandanya masih ada di negeri Belanda. Kecurigaannya adalah, jika sampai di negeri Belanda pun masih terdapat kerabatnya, termasuk keluarga orang Belanda tulen, berarti yang termasuk dari turunannya Sultan Haji, karena pro, bahkan komandan marsose pertama Belanda di Asia Tenggara.

Dan kelompok orang-orang Belanda yang pro Tirtayasa dan putera sulungnya, malahan pula di usir dari negeri asalnya Belanda. Hingga walau sesama turunan Belanda, tapi dari sejarah asal-usulnya hanya tersisa hanya di tanah air Indonesia.

Sedangkan di masa Tirtayasa pun terdapat pula kelompok orang-orang Belanda muslim yang juga berseberangan dengan pemerintah VOC Belanda di waktu itu, bahkan hingga telah di cap golongan orang-orang kafir (padahal muslim) menurut kelompok pemerintah VOC Belanda.

Surosowan-art doc

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_moskee_en_minaret_in_Karang_Antu

Dan di ketahui pula, keturunan keluarga putera mahkota terakhir kesultanan Banten Darussalam, setelah Sultan Mohammad Rafiuddin, tinggal dari cucu-cucunya Sultana Ratu terakhir Banten, Sultana Ratu Kahinten yang juga berasal dari turunan putera sulungnya Sultan ageng Tirtayasa.

Makanya baru setelah puterinya Ratu Kahinten menikah dengan pria muslim Belanda. Kemudian cucunya, hingga Pangeran Mohammad Damien.

Menurut dari almarhum kakak sepupu, dari jl. pasirkudajaya, kabupaten Ciomas, kota Bogor. Di mana di situs Banten lama, nama kabupatennya sama, Ciomas, tapi di Propinsi DI Banten.

Dan di jl. Pasirkudajaya, Ciomas, kota Bogor juga berdekatan dengan lintasan sungai Citarum. Situs dulunya pernah terdapat kerajaan pertama di Jawa, Tarumanegara.

Di mana, ingat di rumah alm nenek di jl. Pasirkudajaya, juga berbentuk arsitektur campuran gaya Banten-Belanda. Bahkan terali besir jendelanya bermotif kubah Irak masjid Husain ra., menjadi kembang simbol kesultanan Banten Darussalam. Dan berwarna cokelat krem.

Di mana atapnya pula beratap bak atapnya masjid ageng Banten, bahkan dindingnya bercampur bilik dan tembok. Ubinnya keramik dengan motif batik Banten, juga berwarna cokelat oranye (cokelat oker).

Walau arsitektur rumahnya akulturasi klasik Banten-Belanda, tapi secara format seperti istana di Cirebon, dengan ciri sederhananya. Hanya di terali samping sekitar depan rumah, yang bergaya terali Belanda.

Tapi, Nenek juga dulu pernah menjadi guru ngaji, bahkan dalam sehari bisa khatam beberapa kali baca Qur’an, di mana cucunya pun semakin tidak mampu melakukannya di masa makin modern orba. Di samping jadi guru mengaji, Nenek juga pernah berjualan kue dan kuliner khas tradisional Sunda.

Lantaran juga mesti membiayai kebutuhan rumah tangganya. Bahkan Nenek dengan rahmat ALLOH SWT., bisa menabung hingga turut membiayai pembangunan mula berdirinya masjid dan pesantren yang kemudian berkembang hingga menjadi mahad/akademi pendidikan agama Islam di jl. pasirkudajaya, Bogor.

Di mana di antara Kiai sepuh Ustadnya (yang juga Kiai asal Bogor, pula telah berusia tua) juga Kiai yang pernah di undang mengajar dan di angkat sebagai Guru besar Islam oleh kesultanan Mindanao, di Moro (di abad 18 m), atau kemudian setelah di jajah Spanyol dan AS jadi dimasukkan ke negara Filipina kini.

Dulunya segenap Filipina namanya Mindanao dan pusat kekuasaannya kesultanan Mindanao yang berlokasi di wilayah di sebut Moro kini.

Sejak masa Ki Sunan Kalijaga pun pernah sering di undang syi’ar Islam di Mindanao dulu. Dan Moro adalah asal dari nama wilayah bagian di Demak, wilayah Moro di Jawa. Memang dulunya orang-orang umat Islam Indonesia pandai-pandai di agama Islam. Banyak bisa menjadi setingkat Ulama, bahkan pernah di angkat jadi guru besar Islam di Mekah, seperti pula di kesultanan Mindanao.

Bahkan di jaman modern pun, internasional mengakui alm. Ki Gus Dur adalah Ulama jenius di dunia internasional. Tapi, para Ulama tua yang tinggal tersisa sedikit kini pun, ada pula mempertanyakan siapa bakal Ulama penggantinya dari generasi muda Indonesia. Bahkan Sarjana lulusan akademi Islam pun, belum mencapai taraf Ulama. Dan Ulama pula bukan sekadar dalam pengetahuan Islamnya, tapi juga dalam akhlakul karimahnya.

Dan yang nampak pula Habib-habib dari Arab., bahkan pula berjaringan dengan kelompok garis keras FPI yang juga kontroversi dengan penduduk.

Padahal Ulama yang benar juga pemimpin pelita Islam, pewaris Nabi SAW., dan pusaka umat Islam dan bangsa Indonesia sejak dulu.

Tapi, kebanyakan orang modern, termasuk orang Indonesia modern makin lama condongnya pada posisi elitisme kapitalisme di dunia. Bahkan walau seolah berbusana Islami, bahkan Sarjana akademi Islam,  rebutan kedudukan melalui partai berlabel Islami, tapi ironisnya juga korupsi dan penipu hak-hak rakyat.

Beda dengan Ulama atau Habib tua dulu dengan kebaikannya.  Dan caranya berdakwah, mengajak kembali mendengar majlis ta’lim Islam di masjid-masjid. Bahkan dulu Ulama tua atau Habib tua juga bisa dengan bercanda, ramah, bahkan ceramahnya cuma sebentar, singkat tapi padat, bahkan setelahnya pula hadirin di masjid sempat di tahan tapi untuk di bagikan kejutan paket dus-dusan makanan dan minuman, buah-buahan bahkan ada pula yang menyelipkan dengan pemberian sebungkus rokok.

Bahkan jarang-jarang pula melakukan tabligh yang padahal di lakukannya di masjid. Karena Ulama, atau Habib dulu, ketika mampu juga bersedekah, padahal beliau-beliau juga hidupnya sederhana. Justru karena kebaikan suguhannya yang di ajarkannya, hingga preman pun secara alamiah turut menghormati, dan terpengaruh dengan kebaikan. Dan sukarela mau ikut ke pengajian.

Atau seperti cara Fatahilah, ketika menghadapi Pekalangan yang berulah. Karena tahu Pekalangan berbuat ulah karena tidak punya isteri, maka di sajikan perempuan-perempuan cantik umat Islam. Untuk di jadikan isteri salah satunya. Kemudian setelahnya, Pekalangan baru sukarela bertaubat, menjadi manusia insyaf. Ia berulah juga lantaran haknya sebagai kodratnya manusia di zolimi.

Tapi, jaman dulu dengan kini, kontroversinya ada bedanya. Mungkin juga perbandingan umat Islam dulu dengan kini ada perbedaannya di kebaikannya.

Nampak beda sekali dengan caranya FPI, atau jejaring kelompoknya, misal dengan melakukan tabligh di jalan umum, bahkan bisa kerap kali, hingga menutup waralaba kemudian cuma orang FPI boleh dagang. Bahkan hadirin yang pernah coba mengikuti tabligh, sempat pula di palak anggotanya.

Makanya yang ikut ngaji dulu, tahunya demikian, kemudian tahu bagaimana caranya FPI, Habib-habib muda dari Arab demikian, jadi ogah lagi ikutan mengaji di tabligh.

Nenek juga menikah dengan Kakek yang juga Ulama dari Sumedang. Bahkan pernah masih terpampang fotonya dengan mengenakan sorban di kepalanya, berkumis dan berjanggut tapi rupanya orang Sunda. Di mana hingga ke janggutnya nampak dominan beruban, abu-abu memutih.

Rupanya Nenek Neneng Murdinah (walau menggunakan nama aselinya), mirip dengan Tirtayasa dan indo Belanda. Di mana juga masih berkulit putih.

Kini, istana Surosowan tinggal puing-puing yang bahkan telah di jadikan situs wisata sejarah.

Dulu di bangun Sultan Banten kemudian di hancurkan oleh Sultannya, kemudian di bangun kembali oleh Belanda, di hancurkan lagi pula oleh Belanda dengan mendholimi hak kesultanan Banten., akibat perbuatan Gubernur Jenderal Daendels.

Haknya adalah, kesultanan Banten berhubungan pasal 18 UUD 45 jelas masih punya hak istimewa kesultanannya. Tapi, istananya pun secara hak modern, pula bukan lagi kompensasinya di situs lamanya yang telah jadi situs wisata sejarah Indonesia.

Lagipula letaknya yang dekat dengan benteng Belanda, yang kini masih di sebut sebagai benteng kuburan Belanda, khawatirnya di malam hari.

Pula dengan penyesuaian adil dan kompensasi modern.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: